link href='http://imageshack.us/photo/my-images/98/sdsao.jpg/' rel='SHORTCUT ICON'/> ♥♥

Sabtu, 23 Oktober 2010

AKIBAT KECANDUAAN DUNIA MAYA





Berhubung hujan gerimis mengguyur sekitaran tempat tinggalku , aku melangkah menyusuri sela sela kamar , membuka notebook , mengubungkanku ke dunia maya .. maya , semaya keadaanku saat ini ... mengecek situs jejaring sosial yang lagi ngetrend belakangan ini ... ahhh memang tak ada kerjaan selain wara wiri disana ... pekerjaan tak tentu , pacar tidak punya .. semoga saja dari situs social networking aku bisa mendapatkan .. ya minimal kenalan lah ...
"oh wow .. friend request !"
kubuka link menuju friend request , ada beberapa teman lama rupanya , dan beberapa tak ku kenal namun memiliki teman bersama .. dan yang terakhir , sesosok wanita (yang) di foto nampak cantik .. namun benar - benar stranger , alias aku sama sekali tak mengenalnya .. bahkan tak ada kata mutual friends disana....
langsung saja kelima friend request tadi aku confirm , dan selanjutnya kutulis di wall mereka dengan kata kata sapaan yang sudah bertumpuk sama & senada , seperti , 'hai thx sudah add' , 'mari berkawan' , 'salam kenal yah' , bla bla bla. tak beberapa berselang ada 'teman baruku' yang membalas wall ku tadi , ternyata si stranger itu ... sebut saja namanya "GRACE" karena di belakangnya ditambahkan nama nama aneh khas remaja zaman sekarang ..
"Sama - sama , Andri ... salam knal yah .." ucap si Grace dalam wall tersebut .. rasa penasaran tiba tiba menyelimuti pikiranku , kubuka kembali halaman profil cewek tersebut ... kulihat seluruh sisi dari profilenya , pertama aku ragu , siapa tahu ini cuman fake profile , karena tak banyak informasi detil kudapat dari sana. Namun aku putuskan untuk yakin saja kalau profil si Grace itu asli. Tak berselang lama , terjadi 'perbincangan' hangat antara aku dan Grace , walaupun hanya lewat wall to wall , karena Grace berdalih ia online lewat telepon seluler.
"Grace masih sekolah atau sudah kuliah..?"tanyaku dalam wall "Baru aja lulus ko Andri .."
"Hmmm seru..!"gumamku dalam hati. tidak biasanya aku mendapat 'kenalan' seperti Grace , parasnya elok , bermuka oriental , meski kurasa tak begitu kental , rambutnya lurus terurai , ditambah lesung pipit yang menggoda , setidaknya itu yang kuingat setelah ku melihat fotonya. Dan beberapa hal yang membuatku 'gembira' adalalah , statusnya masih SINGLE & tinggal di domisili yang sama dengan tempat ku berpijak sekarang .. Sayang sekali ketika 'perbincangan' kami sedang seru serunya , tiba tiba ia tak jua membalas 'kiriman' dariku ... mungkin saja dia off , aku coba berfikir positif .. meski kadang sangsi melekat di hati ..
"Paling paling cuman sampai hari ini aja .." keluhku.. ya biasanya juga begitu , satu dua hari , lalu menghilang , datang lagi kenalan yang baru seperti yang sudah terjadi .. arrgh susah susah mudah memang berkenalan di dunia maya , apa aku yang terlalu pasif ? entahlah ... atau trauma gara gara cinta yang selalu kandas , ketika datang dari dunia maya? mungkin juga ..
Masih di hari itu juga , di malam hari , ketika aku suntuk dnegan keadaan yang ada .. jejaring sosial jadi solusi memecahkan kebuntuan pikiranku malam itu .. Alangkah senang hatiku saat ku lihat di daftar obrolan ada nama Grace . Ya Grace yang tadi siang itu !
"Halo.." Sapaku SKSD.
"Andri..."
"Yup.." "Dimana Grace?" kata kata sapaan standar meluncur ke ruang ketik kecil di pojok kanan bawah layar komputerku.
"Di rumah .. kamu?" "Sama Grace ..."
"Sorry yang tadi , ndri , aku keburu off ..ia memotong percakapanku. "..ohh iya gak apa apa grace ... btw tinggal dmn Grace?"
" :) ooh aku di Perum Mandala , deket SPBU itu lho ..." aku berpikir sejenak , mengingat ingat daerah tempat tinggal si manis yang satu ini ..
"Ohh iya iya .. aku tahu .." padahal aku samar samar mengingat tempat yang ia tuju , masalhnya lumayan jauh dari kediamanku .. "..dulu sekola dimana?"
"SMA 13 , ndri..kamu?"
"wooo aku di 2 , angkatan 2008 .."
"anak 2 , ya ? kenal ama si Anggi dong? anak cheers dia .. "Lanjut Grace. "tau lah Grace .. temenmu ya?" "kita sama2 anak cheers di DanceRev lho .. :D"
Wowwww , anak cheers , pikiran 'gila' ku terbayang dengan kemolekan anak anak cheers , haha naluri lelakiku terpancing rupanya.
"Mantappp!"candaku.
"Mantap apanya .. hahaha"
"Di lanjut kemana sekolahmu Grace?"
"Syukur aku uda keterima di salah satu universitas negeri disini , Ndri. kamu ngga kuliah kah?"
"selamet ye .. kuliah sambil kerja , kerja kerjaan .. hahaha" begitu terasa akrab , perbincanganku dengan Grace , padahal aku baru mengenalnya tadi siang , namun , nasib baik memang belum menghinggapiku kali ini .. sedang asyik asyiknya ngobrol , tiba tiba Grace 'pamit' ..
"Arrrgh!" "Lupa aku minta nomor teleponnya .. !"“huft!”
aku menghela nafas panjang , padahal sedang asyik nya saat itu , tapi ya sudahlah , lain kali juga aku bisa ngobrol lagi dengannya ..rupanya anak itu rajin OL juga. demi mendaptkan sebuah 'perhatian' aku rajin memberikan jempol atau sekedar memberikan opini di beberapa status yang ia terbitkan , meski banyak wanita yang lalu lalang di wall ku , sepertinya anak yang satu ini dapat tempat tersendiri dalam hatiku .
"Andri ... !" Wow Grace , menyapaku siang itu.
"Grace ... lagi dimana nihh?"
"Baru pulang dari sekolah Andri .. ambil ijazah .."
"weee selamat ye .. nilainya bagus bagus ngga?"tanyaku. "Disconnect lagi? "
Grace tiba tiba meninggalkan percakapan begitu saja
"Sialan !"mau marah tapi aku bingung kepada siapa aku harus marah. tak kehabisan akal , aku kirimkan pesan pribadi ke akun Grace , yang isinya , tiada lain tiada bukan , menanyakan nomor ponselnya … dengan sedikit perasaan berharap Grace mau sharing nomor ponselnya padaku .
Rasa penasaran dan harap harap cemas menunggu balasan dari si Grace . hei , tumben aku sebegitu tertarik dan ngototnya pada seseorang di dunia maya … apakah dia .. atau … akh ! sudahlah aku tak mau berandai andai terlalu jauh , anggap saja ini lotere , keberuntungan bisa menghinggapi siapa saja .. haahahahaha.
Dan perkiraanku ternyata tidak meleset ! Grace menjawab pesanku ! isinya ? sudah pasti nomor ponselnya .. tak lupa ku berterimakasih padanya .. hmhhh mungkinkah lembaran baruku bakal terbuka? bisa jadi .. hahaha . walau , jujur saja aku tidak terlalu berharap , toh punya banyak 'temen' disana pun sudah cukup bagiku ... satu dua hari belum juga ada pesan atau ada balasan pesan dari Grace , kalaupun ada pesan masuk ke kotak masukku , kuanggap semua tidak penting .. maklumlah aku sedang menunggu beberapa dijit nomor yang mungkin saja bisa merubah kehidupanku.
"Satu Pesan !" Pesan tanpa judul nyangkut di kotak pesanku.
"Dari Grace !" dengan sabar kubuka pesan itu , dan tepat sekali , di memberikan nomor ponselnya padaku ..
"Yiipii !" 085..... tanpa basa basi ku save kedalam ponselku dan .. detik itu juga aku sms dia , ya aku sms Grace !
"Andri yah?"tak beberpa lama Grace balik meng sms aku.
"Lho kok bisa tahu? ya?" gumamku dalam hati. begitu tahu nomor ponsel Grace aku rajin sms dia , kadang - kadang ia menelfon aku , atau sebaliknya , kedekatan kami semakin menjadi jadi saja . setelah dirasa , Grace memang sosok wanita yang 'gue banget' , walaupun aku belum bertatap muka denganya . hmmmh , bagai tanaman yang layu , kini ada orang yang menyirami hatiku .
Grace kah? bisa jadi ! satu yang ingin kukatakan pada Grace , adalah , kapan ada waktu untuk bertemu ? siang itu aku coba nelfon dia. "Siang Grace !"
"Hei , Andri , lagi ngapain?" tanya Grace riang.
"Biasa balik ngantor .."
"cup cup , cape yahh? istirahat dulu sono , hehe" mendengar ucapan manja Grace , lelahku sirna seketika. Lama kami mengobrol ngalor ngidul kadang kadang OOT juga ..
"Grace , kapan ada waktu nih ? bisa kita kopdar? hehehe" "kopdar?"tanya Grace bingung.
"ohh maksudnya ketemu.. hehehe ga ada yang marah kan?" "ga ada sih ..." Grace tiba tiba memelankan nada bicaranya ...
"Hallo Grace .." panggilku.
"Grace.." ia terdiam sejenak rupanya ..
"I.. iya .. andri .. "
"kenapa?"
"ahh ngga .. ngga apa apa kok .. " "ya udah Grace , kalo emang ga bisa aku ga maksa kok .." merasa bersalah , aku akhiri perbincanganku dengannya , sempat aku kirimkan SMS berisi permintaan maafku padanya namun ia tak kunjung membalas SMSku . aku jadi semakin bersalah , namun aku coba tuk berfikir jernih , dan tentunya , berharap tak terjadi apa apa denganku.
"Grace kenapa ya???"ratusan pertanyaan dengan kalimat yang sama rasuki pikiranku . sembari merebahkan badan , aku merasa tak enak sama dia. sampai aku terbangun , dan beranjak ke kamar mandi , dalam hatiku masih terpatri pertanyaan yang sama.
Gara gara kesibukan yang ‘tidak jelas’ diluar sana , aku jadi jarang online. Sesekali aku SMS Grace , tapi hanya beberapa saja yang ia balas , kalaupun di balas , hanya ‘seperlunya’ saja , ya mungkin aku terlalu berharap padanya atau Grace yang tidak mengerti perasaanku ya?? Hahaha. Sempat sesekali ku lihat profilnya , statusnya masih yang di waktu yang sama , 5 hari yang lalu.
“hey , tumben ..” Sedikit panas telingaku begitu melihat wall Grace yang penuh dengan komentar komentar merayu memanja , baik itu dari temennya , cowok cowok aneh , dan lain sebagainya .
Hei , buat apa aku cemburu , toh dia bukan siap siapa aku? Lucu sekali aku ini. Sebelum meletus ‘cemburu’ ku pada Grace , aku update terlebih dahulu statusku ,yaaa , hambar rasanya , mengunjungi jejaring social tanpa melakukan ritual yang satu ini , sembari membalas beberapa wall yang bersarang di halaman profilku. Tak beberapa lama berselang muncul sebuah pemberitahuan , merah warnanya bertuliskan angka satu di pojok kiri atas layar.
“Grace?!” tak disangka ia mengomentari statusku.
“Andri , sorry yah , Grace sibuk niihh , pasti kamu marah yaaa? Boro boro ingin marah , Grace menulis di statusku saja sudah melegakan hatiku , dan menjawab semua pertanyaanku beberapa hari belakangan.
“kemana aja Grace , kangen nihh..”jawabku
“pip” notification lagi !
“duuh kangen siapa , Ndri? Hehehe” Wah , balasan Grace membuat aku senyum sesenyum senyumnya , aku jadi tersipu , malu , gembira dan bahagia. Sibuk saling berbalas status aku jadinya , tanpa aku sadari ponselku berbunyi , keras . mengaggetkanku yang sedang mengetik dengan semangat.
“Grace?!”
“Damn ! , beruntung sekali aku .. hahahaha” aku tertawa puas , lantaran dapat sms dari ‘pujaan hati’ . isinya , ‘sama saja’ , lagi – lagi permintaan maaf Grace padaku. Aku jadi geleng – geleng kepala , kenapa Grace terlihat merasa bersalah kelihatannya , padahal , aku biasa aja . saling balas membalas SMS pun terjadi , supaya focus , aku tutup saja komputerku. Tadinya aku ingin mendengar ‘suara merdu’ Grace lewat telepon , tapi ia menolak dnegan bermacam alasan. Ya sudah lah , yang penting , aku ‘rujuk’ lagi dengannya.
“Andri kamu mau ketemu sama aku? Biar kamu ga marah lagi sama aku” pinta Grace dalam SMSnya. Damn ! ketemu? Ketemu Grace? Saking gembiranya aku melompat kegirangan ,
“Ketemu diamana Grace?” Wow , benar benar aku gembira tak karuan , hari sabtu nanti , Grace berniat menemuiku , kuputuskan menemui dia di sebuah kedai kopi asal Amerika yang ada di pusat perbelanjaan di kotaku. Karena menurut pengakuan Grace , ia sangat menyukai Cappuccino. Ahh tak sabar aku menunggu hari sabtu , padahal masih 2 hari lagi . aku harap Grace menepati janjinya. Tapi , aku mengerti bila mendadak ia batalkan janji pertemuan kami.
Dan aku tersenyum lebar hari ini , karena ini hari sabtu ! begitu sampai di tempat kerjaku , aku SMS Grace , perihal pertemuan kami sore ini.
“Grace , gemana jadi?” Tak lama berselang , Grace menjawab dengan begitu antusias.
“Oke lah , Ndri , jangan telat lho , hehehe”
Waktu bergulir begitu cepat , matahari kini sudah hampir tenggelam , dan aku sudah siap ! siap untuk bertmu Grace ! ya Grace !
hari itu jam 18.30 waktu setempat , aku tiba di kedai kopi tersebut , ramai betul ! maklum lah ini hari sabtu , banyak orang sekedar nongkrong , kongkow – kongkow atau menikmati internet gratis disana. Ketika sedang melihat kiri kanan ,Grace menelfonku.
“Andri !!! diamana??!!”
“Grace aku sudah sampai nih , di kedai kopi !”
“Hei , boy aku sudah dari tadi , kamu masuk aja , aku duduk di pojok kanan , pake baju warna putih ..”
“ok ok Grace ..” Langsung aku masuk kedalam kedai yang ramai tersebut , kucari pojok kanan , seorang wanita berbaju putih , memakai bando sedang menikmati segelas cappuccino !”
“Ini dia!”pikirku. Tak berapa lama kuhampiri gadis cantik itu , , ia masih asyik dengan cappuccino nya yang terlihat begitu nikmat ia teguk.
“Grace?” Sambil menoleh kearahku , ia menurunkan gelasnya dari bibir mungilnya itu.
“Andri?” ia tersenyum sembari memamerkan lesung piptnya .
“duduk sini , Ndri ..” Tak ada bedanya antara Grace yang selama ini ku kenal lewat dunia maya , ataupun Grace yang baru beberapa detik yang lalu ku temui. Dia benar benar orang yang menyenangkan .
kadang ada pikirian liar dalam otak ku yang ingin memilikinya , bukan hanya sebagai teman . dan rasa itu seakan ‘menyiksa’ hari - hariku. Waktu bergulir begitu cepat , jam 9 malam , terlihat Grace bersiap untuk pulang , sesekali ia tersenyum kearahku.
"Mau pulang , Grace?" tanyaku
"iya .. ayo , Ndri .." tadinya ingin kuantar ia pulang naik sepda motorku , tapi ia menolak dengan halus , rupanya ia bawa kendaraan roda empat. aku jadi malu sendiri , kuputuskan kuantar dia sampai ke parkiran , entah kenapa aku merasa benar benar tidak rela kalau Grace pulang . Tiba - tiba perasaan cemas melanda hati , namun ketika kulihat wajah Grace , ia nampak begitu gembira .. malah ia sampai berkata satu kata penuh makna .. setidaknya itu menurutku.
"Kapan - kapan ketemu lagi ya?" aku tersadar dari lamunanku ...
"ok ok lah Grace , gampang .. hehehe"
"Andri kenapa?" tanya Grace
"ee .. eengga .. Grace berani kan pulang sendiri?" tanyaku
"ada ada aja .. berani dong ..!" secara refleks jemari Grace merangku tangan kananku. aku kaget setengah mati , bercampur perasaan gembira tak terduga . ia genggam jemariku erat , begitu hangat tangannya kurasa . sesekali aku lihat raut wajah Grace , ia nampak tanpa beban , berbeda denganku yang canggung ditambah grogi. tak berselang lama , sampai juga di tempat Grace memarkinkan mobilnya . sebuah sedan berwarna hitam dan sepertinya sangat familiar kulihat.
"hati hati ya Grace ... " sambil menoleh kearahku ia tersenyum dalam , sangat indah kulihat , belum pernah kulihat senyuman yang seperti itu sebelumnya.
"makasih ya , Andri .." ia beranjak masuk kedalam mobilnya. dibukanya kaca jendelanya .
"jangan kapok ya ketemu sama Grace .." Gracepun berlalu tepat dihadapanku . tapi perasaan itu masih saja mengganjal , kenapa aku tak ingin Grace pulang , bisakah ia tetap disini , barang semenit saja ?? ya sudahlah , toh ia sudah pergi . kini giliran aku pergi , jam di tanganku menunjukan jam 21.21 , kuberharap tak ada hal yang tak diinginkan terjadi ..
meski sedikit resah , kulangkahkan saja kakiku pergi dari sana .. sambil berharap Grace , atau aku baik baik saja . begitu berjalan menuju tempat parkir motor , aku melewati sebuah emperan toko , disana menjual mawar berwarna putih. entah asli atau hanya imitasi , aku tertarik melihatnya . padahal ini bukan musim valentine , tapi ada saja yang menjual bunga macam ini. ya sudah kubeli saja untuk hiasan di ruang tamu. aku bergegas pulang , sebelum ku beranjak , aku sempat sms Grace , beri tahu dia supaya hati hati.
Dan kupacu kuda besi tua ku , udara dingin begitu menggigit malam itu. ramai sekali lihat jalan raya , banyak orang menghabiskan waktu , bercumbu bersama pasangannya , sialan ! coba saja aku .... arrgh , muncul pikiran tentang dia lagi . pelan kupacu sepeda motorku , malas aku kebut kebutan ditengah keramaian plus angin yang berhembus gila , menusuk tulang.
Berhenti aku di lampu merah , kudengar suara raungan sirine , entah itu ambulans , polisi atau satpol pp . suarnya terus mengeras , dalam benaku paling ada orang meninggal atau iring iringan pejabat. ternyata benar , setelah kutoleh kebelakang , ada sebuah ambulans menerobos barikade kendaraan yang sedang berhenti , diikuti sebuah mobil polisi .
"sontoloyo ! main terobos saja .."keluh seorang pengendara motor disebelahku. ahhh , aku tak peduli , begitu lampu berubah hijau , aku tarik saja pedal gas ku , sungguh kurang beruntung aku malam ini .
macet total ! sialan ! , ditambah perasaanku yang tidak menentu malam itu , iseng , ku Tanya pengendara di sebelahku.
“pak ada apa nih , panjang banget ..”
“kurang tahu , dik … “
“ada kecelakaan di ujung sana …!” Sambung seorang pengendara motor dari arah berlawanan.
Pantas saja , tak biasanya jalan ini macet macam begini. Terlihat beberapa polantas mengatur jalannya lalu lintas yang ada disana .. banyak pengendara motor yang putar haluan , tadinya aku ingin memutar arah , tapi sepertinya terlambat , sekalian ingin melihat lebih dekat , apa sebenarnya yang terjadi. wow .. asap mengepul , bukan kebakaran , tapi dari mesin sebuah truk SUV yang melintang di pertigaan itu.
"wih , kap mesinnya sampai rontok begitu .." aku berjalan , pelan karena kendaraan begitu padat melintas , suara pluit polisi , sirine ambulans , asap yang mengepul menghiasi jalan itu , terlihat beberapa polisi memasang garis polisi . sebuah mobil terguling disebelahnya . ngeri betul kulihat , dadaku berdetak kencang saat itu , membayangkan kalau aku yang jadi korban kecelakaan .
"amit amitt dah .." sebentar ... rasanya aku pernah melihat hal ini sebelumnya .. asap yang mengepul , sirine polisi , ambulans .. dan ....
"MOBIL SEDAN HITAM !"aku kaget setengah mati ... terguling ! dan aku lihat dengan mata kepala sendiri , belingnya berserakan dimana mana. bagian depannya penyok , hanya bagian kirinya yang masih terlihat utuh , habis dihantam truk SUV tadi ..
"jangan .. jangan .." Reflex aku segera sms Grace saat itu , aku menepi , beberapa orang petugas menyuruhku jangan diam dekat TKP , tapi aku tak peduli , mirip sekali dengan mobil yang di kendarai oleh Grace !!! mobil yang terguling didepan mataku ! yang kacanya berhamburan kemana mana ! paranoid sekali aku saat membayangkan kalau itu benar benar mobil milik Grace !
“sial tidak ada jawaban !” aku makin kalap dan khawatir ketika berulang kali aku telfon Grace namun tak ada jawaban . ohh tuhan !!!! berikan perlindungan padanya !!! Dengan perasaan yang tidak menentu , aku beranjak pulang kerumah , mondar – mandir menunggu kabar dari Grace , sambil sesekali berdoa , semoga tak terjadi apa – apa dengannya .
Untuk mengubur kecemasanku , kunyalakan TV , acaranya hanya itu itu saja . sinetron , debat politik atau hal hal berbau mistis . bosan . Tapi , siapa sangka , saat ku pandangi layar TV kulihat sebuah news sticker melintas , kubaca kata demi kata .. dan terjawab sudah kecemasanku saat ini.
“SEBUAH KECELAKAAN TERJADI DI PEREMPATAN SIMPANG 3 , SEBUAH TRUK YANG KEHILANGAN KENDALI MENGHANTAM SEDAN YANG SEDANG MELINTAS DARI ARAH BERLAWANAN ….. PENGEMUDI SEDAN , SEORANG WANITA DILARIKAN KERUMAH SAKIT DAN KINI DALAM KONDISI KRITIS….”
“Grace …! Astaga !” Tanpa basa basi , aku pergi sesegera mungkin ke rumah sakit yang disebutkan dalam berita tadi , ku tarik pedal gas ku dalam dalam , seolah tak peduli dinginnya malam.
Tiba disana , aku langsung bertanya , meski jiwaku dalam keadaan panik.
“Suster , korban kecelakaan tadi …”
“… anda siapa?” potong si suster.
“sa ..saya .. temannya sus ..”
“oh di ruang perawatan , anda bisa temui petugas disana ..!” Berlari aku menuju ruang perawatan , terlihat beberapa orang disana , seorang wanita paruh baya dan satu lagi anak remaja , terlihat tak henti hentinya menangis , mereka saling berpelukan .
“Kak Grace ..” ucap si gadis itu sambil tersedu – sedu , matanya bengkak.
“Grace?” potongku.
“Kamu siapa?” Tanya si ibu.
“Sa.. saya …” Aku sedikit menjelaskan siapa diriku , dan akupun bertanya juga apa benar Grace yang dimaksud adalah Grace yang baru saja aku temui , Grace yang selama ini aku kenal dari dunia maya , Grace yang …. Arrgh !! aku lemah tak berdaya , seakan tangisku ingin pecah saat si ibu mengatakan kalau korban kecelakaan adalah Grace yang aku maksud.
Apalagi diperkuat dengan foto yang ditunjukan gadis itu , yang tiadalain adalah adik kandung Grace.
“Ya Tuhaaaaaaaaaaaaaaan !” aku berteriak dalam hati.
“Jadi tadi sore Grace ketemu sama kamu?” Tanya si ibu sambil mengusap air matanya.
“betul bu … “
“kalau tahu begini jadinya …” sambungku.
“sudahlah nak Andri , semua sudah rencana tuhan , ini bukan salah kamu…” Aku , ibu dan adik Grace pun sepakat saling menguatkan . aku beranjak dari tempat duduk ku , mencoba untuk mengetahui bagaimana kondisi Grace saat ini . Tak lama berselang ..
“Pak Dokter .. bagaimana kondisinya ..” Aku langsung mencerca dokter itu dengan pertanyaan.
“Kondisi pasien masih belum stabil , korban mengalami gegar otak dan cedera cukup parah …”
Satu , dua , tiga jam sudah aku menanti kepastian dari kondisi Grace , beruntung , kami diizinkan dokter untuk melihat kondisi Grace , tuhan , tak ada yang berubah dari Grace , meski ia mengalami kecelakaan hebat , tak satupun cacat diwajahnya . tetap bersih , putih , seolah tak ada sesuatu terjadi padanya. kugenggam erat tangannya , kubelai rambutnya dan kucium keningnya .
tak jemu aku memandangi paras cantik Grace. kuletakan bunga mawar putih yang tak sengaja aku beli tadi sore . kuletakan disamping tubuhnya.
"Grace , aku sayang kamu .."
dengan nada sendu kuucapkan kata yang selalu ingin kukatakan padanya. dingin kurasa saat ku genggam jemarinya.
sesaat kemudian , dokter dan petugas disana datang , mereka mencabut infus , dan segala alat yang menempel di tubuh indahnya. mereka memaksaku untuk melepas jemari kami. wajah cantiknya kemudian diselimuti oleh kain berwarna putih , beberapa orang membawa Grace keluar dari ruang perawatan . di saat itu aku baru tersadar , kalau Grace harus pergi dari ruangan ini. Karena Grace sudah tidak ada lagi disini.
“Mungkin Ini Bisa Jadi Yang Pertama Dan Terakhir , Terakhir Untuk Ku , Bukan Berarti Terakhir Untuk Mu” kiEaLonE

KECANDUAN DUNIA MAYA!!


Rara adalah gadis manja yang kutu buku dan sangat tertutup, Nggak pernah 1 kali pun dia menceritakan masalahnya kepada keluarganya, paling Rara cerita cuma sama sahabatnya Dita. Kerjaan Rara cuma diam di Rumah, menyendiri di kamar gara-gara selalu dilarang keluar Rumah oleh orang tuanya, ini itu gak boleh. Emang sewajarnya orang tua Rara kayak gitu, soalnya waktu kecil Rara pernah di Culik, jadi mungkin orang tuanya takut dy di culik lagi a.k.a trauma gitu, secara Rara kan anak bungsu. Mungkin itulah yang membuat Rara menjadi seorang gadis berumur 16 yang minderan dan penakut.****
Suatu hari di Siang yang panas menyengat..
“Ra, mau kemana kamu nak??” Tanya mamah.“
Cuma mau keluar aja qo mah, bentar mau minjem buku sama temen!” Jawab Rara langsung bergegas pergi.
Sesampainya di Rumah Dita..
“Dit, loe lagi ngapain??”“Gue ganggu loe gag?” kata Rara.
“Nyantei aja lagi Ra, gue lagi gak ada kerjaan nih!”“
Tumben nih loe ke Rumah gw, ada apa?”Tanya Dita.
“Gue kesel di Rumah Bete!!!”“Apa-apa gue dilarang, mau keluar rumah juga dilarang!!”“Nyokap gue over protektif banget!” kata Rara dengan nada kesel.
“Waduh, kasian banget loe jadi anak punya orang tua gag ngebebasin anaknya”
“Kayak gue dong Ra, apa-apa dibebasin kalo gw masih di batas positif-positif aja!!”“Hehehehehe Derita Loe aja Ra, orang sabar di sayang Tuhan lho!!” kata dita sambil ngetawain Rara.
“Huh, dasar elo bahagia diatas penderitaan orang laen!” timpal Rara sambil ngelemparin bantal ke arah Dita.
Keesokan harinya..
Di Sekolah..
“Rara, Ibu gag bisa ngajar hari ini, Ibu titip tugas ya Ra buat anak-anak??” Kata Bu Ida (Guru Bahasa Inggris Rara)
“Oh iya Bu, tar rara kasih tau anak-anak kalo ada Tugas dari Ibu”“Hati-hati ya Bu” Jawab Rara bergegas ke kelas.
Sesampainya di kelas..
“Woy teman ada tugas nih dari Bu Ida, katanya dia ada perlu jadi gag bisa masuk” Tegas Rara di Depan teman-temannya.
“Huft, tugas sekolah makin numpuk aja!!”
“Kayaknya pulang sekolah gue harus langsung ngerjain tugas ini!!” kata Rara sambil menghela nafas panjang.
sesampainya di rumah..
“arrrrggggghhhhh!! Gw jenuhhhhhhhhhhhhhh!!” Teriak Rara.
Tiba-tiba matanya langsung tertuju pada Laptop di kamarnya.
“Daripada gw bete mending online YM (Yahoo! Messengger.red) aja ah!” Cetus Rara kesal.
Tangannya langsung maenyalakan tombol on di Laptopnya, jari-jarinya memegang mouse lalu mengklik aplikasi YM.“click..click..” suara mouse yang dia gerakan.“tek.tek..tek..tek” jari-jari Rara dengan lincah mengetikan usename dan passwordnya.Beberapa saat kemudian ketika Rara lagi chat (chatting.red) sama temen-temen YM-nya. Tiba-tiba ada cowok yang ngajak Rara chat, cowok itu nicknya YM-nya “SUPERMAN_WANNABE”.
Begini isi chatnya..Superman_wannabe: Hy!! Asl plz!
Rara_Qyutz: Hy jg! 17 f bdg
Rara_Qyutz: u??Superman_wannabe: 17 m bdg. Btw skul dimana neh??Rara_Qyutz: di SMA Bintang Jaya. Km??Superman_wannabe: SMA Bandung Barat.Superman_wannabe: Knalin nama aq Kevin.Superman_wannabe: Nama km Rara ya?? Lam knl okaii!!Rara_Qyutz: okay salam kenal juga ya!! HahahaSuperman_wannabe: ouia ada fb (Facebook.red) gag ra??Superman_wannabe: tar gw add!!Rara_Qyutz: Fb gw rara_qyutz@yahoo.com
Rara_Qyutz: add ya! Thx b4 :DDari sejak itu Rara jadi sering OL YM sama buka FB, padahal dulunya Rara gak begitu terlalu ngeuh sama yang namanya dunia maya. Dan sejak saat itu pula dia jadi nggak ngerasa bosan lagi berlama-lama diem di rumah gara-gara tugas sekolah yang menumpuk & ortunya yang terlalu over protektif sama Rara.“Kalo tau dunia maya rame gini, kenapa gak dari dulu aja gw exist di dunia maya!!”“hahahahaha” Kata Rara kegirangan.
Setelah kejadian itu, stiap hari sepulang sekolah yang dikerjakannya pasti OL, OL dan OL.. Kalo gak chatting pasti OL FB, yang dikerjakannya sampai larut malem cuma Wall-wall-an sama temen-temen FB-nya.Gara-gara Rara kecanduan Dunia Maya jadi membuatnya malas belajar. Sampai mamahnya pun udah cape marah-marahin dia yang gak pernah mau nurut.****
2 bulan kemudian..
Di Sekolah..
“Rara!! Kenapa akhir-akhir ini prestasi kamu menurun drastis??” Tanya Ibu Ida
“Hmmm, gak tau saya juga Bu, qo bisa sampai kayak gini??” jawab Rara terbata-bata.
“Ibu lihat nilai-nilai kamu yang bagus jadi kayak gini!!” Timpal Ibu Ida sambil manunjukan nilai di kertas ulangan Rara.
“Maaf bu, saya akan lebih giat belajar bu!!” Kata Rara gugup.
“Oke ya udah Ibu pingin liat nilai kamu bagus, gak jeblok kayak gini lag!!” Jawab Ibu Ida tegas.****
“Mantap Dit, tadi gw kena semprot Ibu Ida!!” kata Rara dengan muka madesu.“
Who, qo bisa Ra?? Tapi salah elo juga kali Ra, nilai loe jadi nurun gitu!!”“Scara gitu loe kan peringkat pertama trus di kelas ini!!”
“Tapi sekarang kenapa elo jadi kayak gni?!”“Pasti lah Bu Ida kecewa, secara dia wali kelas kita, dia juga yang slalu merhatiin nilai-nilai elo!!” kata Dita panjang lebar so nasehatin.
“iya juga sih dit, emang bener kata loe, gue yang salah!!”“Mungkin ini gara-gara gue kecanduan Dunia Maya!!” jawab Rara nyesel.
“Beuh, gada untungnya juga Dunia Maya, malah bikin males!” cetus Dita langsung berlalu pergi.Bel sekolah udah berbunyi, berarti waktunya pulang..
Sesampainya di Rumah..
“Mahhhh, Rara pulang!!” Rara bergegas lari ke kamarnya. Setelah ganti baju lalu Rara langsung turun ke bawah untuk makan siang.
“Mahhhh, nilai aku jadi nurun”
“Tadi aku di omelin Guru di Sekolah!” Kata rara sambil ngambil makanan.
“Kata mamah apa?? Itu gara-gara kamu main internet mulu sampai malam suntuk!?”“Kalo dipake belajar kan lebih bermanfaat!!” jawab Mamahnya Rara tegas.
“Iya bener mah, sekarang Rara udah tau kalo belajar itu lebih penting daripada main di Dunia Maya!!” jawab Rara nunduk.
“Ya udah mulai sekarang kamu mulai perbaiki lagi prestasi kamu di sekolah ya??”“Mamah bakal ngesupport kamu dengan doa!!” kata mamah sambil tersenyum.
“Makasi ya mah!!”“Rara pengen jadi anak yang dibanggain mamah!!” cetus Rara mantap sambil meluk mamahnya.****
2 bulan kemudian.. Test akhir semester udah beres.Saatnya pembagian raport nilai di sekolahnya Rara.
“Rara joyceline!!” ibu Ida manggil Rara buat ngebagiin raportnya.Rara berjalan menuju kearah meja Ibu Ida.
“Ra, ibu bangga sama kamu!!”
“Ibu kira nilai kamu gag akan naik lagi, gara-gara waktu itu nilai kamu sempet nurun!”
“Tapi ternyata perkiraan Ibu salah!!”
“Nilai kamu jadi semakin bagus!! Ibu bangga sama kamu!!”
“Rajin belajar terus ya!!” kata Ibu Ida tersenyum.
“Makasi ya Bu!!” jawab Rara sambil tersenyum simpul. ****

SAHABAT DUNIA MAYA


Bulan Maret lalu saya memulai bulan dengan mendaftar di sebuah Game online sederhana yang misinya adalah membangun Desa yang sangat kuat.Cerita saya berawal ketika saya membuat suatu perkumpulan(aliansi) di game itu.Dalam berberapa hari perkumpulan ku ini mulai laris walau peringkatnya agak buruk.
Seminggu kemudian,ada seorang pemain yang berjenis kelamin perempuan ingin mendaftar ke perkumpulan yang saya buat.Saya senang dia bergabung,dia bilang untuk masuk kesini sangat sulit.Tentu saja dia membawa seorang sahabatnya juga masuk ke perkumpulanku.Dia selalu Ber IGM(in game mails) dengan saya,dia sangat menarik untuk diajak mengobrol,begitu terbuka dan tanpa hambatan sedikitpun,seperti burung yang melayang di udara.
Selalu dia menceritakan segala macam hal dalam kehidupan sekolah,persahabatan,game,dan segala masalah yang menimpanya.Dia begitu sibuk dengan lesnya,tetapi dia masih bisa membagi waktu.Saat ini dia kelas 9 smp di suatu sekolah di jakarta utara,karena terlalu banyak masalah,terkadang saya menjadi penasihatnya.Saya selalu mengingatkan dia karena dia tidak lama lagi akan UAN,tidak lebih dari 1 tahun lagi."lu udah semakin deket sama UAN,ga belajar??..kok online terus?",tanyaku,"iya ju,gue sibuk bener nih,online aja susah,mana net di hum gua ngadat lagi!",balasnya melalui PM(privat message).Saya sudah menganggapnya sebagai sahabat saya,mungkin harus saya tegaskan saya belum pernah bertemu dia namun saya sudah menganggapnya sebagai sahabat yang baik,mungkin karena alasan itulah saya menganggapnya sebagai Sahabat Dunia Maya-ku,antara ada dan tiada.Namun walau begitu,saya sangat senang bisa memiliki sahabat seperti dia,unik,baik,rendah hati dan menyenangkan! :D
:D

Sabtu, 16 Oktober 2010

Selasa, 28 September 2010

Updaate

Buat Para Tropers ..PointBlank untuk hri ini saya tidak dapat me update Chit ...dikarnakan ...masih dalam rangka Berduka ...karna Char saya ...Ke Hack ...

Kamis, 23 September 2010

CHEAT PB AMMO , GRENADE, MISI MAYOR, MINIMIZE, WALLSHOT 22 SEPTEMBER 2010



tutor ada di dalamnya,..,
kemungkinan file bervirus,. gunakan pada komputer yg ada deep freeze nya 

cheat ini bisa di gunakan sebagai gabungan dg RPE
cheat exp

^_^

credit N3 N ZENIX


http://www.4shared.com/file/Ylplc3_Q/tomyrambozhablogspotcom22.html sedot ajah Di sni ..Gan ..
PAs nya tomycutez

UnityArea (WallShot, Alt Tab, Bomberman, Auto Suspend HS)

Fitur :
WallShot
Alt Tab
Bomberman
Auto Suspend HS
pas nya chibihacker

rpE versi 23 sept 2010

rPE Versi 22 September 2010 =http://www.ziddu.com/download/11764790/CrPE21September2010.rar.html, Password : Tanya Aja Langsung Ke Saya
chibihacker ( ini pas nya )

Pasimbung 23 sept 2010 ,


Fitur:
* Ammo [ON]
* Wallshot [ON]
* Misi Mayor [F9]
* Title Effext Hack [F10]
* Weapon Mode Hack [F11]

download di sini =http://www.ziddu.com/download/11791306/pasimbungv1.2.rar.html , password : chibihacker

Caranya :
-Jalankan Point Blank, klik start.
-Saat loading hackshield, klik Pasimbung.
-Tunggu muncul Nyit-Nyit.Net langsung di close aja.
-Selesai, Happy My Cheat.

Penggunaan:
* Misi Mayor, tekan F9 di lobby
* Title Effect Hack, tekan F10 di jendela mission/title
* Weapon Mode Hack, tekan F11 untuk menghilangkan batasan senjata sebelum klik START di room

Credit By : HRD@Nyit-Nyit.Net

Jumat, 23 Juli 2010

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Lewat kata yang tak sempat disampaikan

Awan kepada air yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *

For vieny, welcome to your husband’s heart.

*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.

Tak Cukup Hanya Cinta

“Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?”, sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami masing-masing membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.

“Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri”, jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan sandal-sendal yang lain. “Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri majelis-majelis taklim”, raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku bisa memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.

“Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol dulu”, tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. ” Nggak papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama nggak ngobrol-ngobrol”, jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang masih satu komplek dengan Mesjid.

Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.

“Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama”, mbak Artha mulai bertutur. “Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk menikah”.

“Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?”, tanyaku penasaran. “Itulah dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat perbuatanku sendiri”

“Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah dan mawaddah baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik, udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek, aku Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik”, papar mbak Artha sambil tersenyum getir.

Suami Impian

Penulis : Asma Nadia

“Apa lagi, Nirina?”

Gadis dengan garis wajah oriental itu tak menjawab. Hanya menggoyang-goyangkan kakinya, resah.

“Tak ada yang salah dengan perawakannya, kan? Tidak seperti lelaki yang terakhir datang.”

Nirina tersenyum. Pasti pikirannya melayang ke kejadian tujuh bulan lalu, ketika seorang lelaki datang melamar. Biyan, namanya. Kehadiran sosok tegap itu segera saja membawa kami pada pertengkaran sengit,

”Aku tidak bisa.”

”Kenapa?” kejarku cepat. Ini bukan pertama kali Nirina beralasan. Selalu ada saja kekurangan lelaki yang melamarnya.

Kekanak-kanakan!

Terlalu serius. Lihat keningnya yang terus-terusan terlipat!

Wajahnya aneh, tidak terlihat tulus.

Entahlah, dari caranya berjalan, sepertinya dia tipe lelaki yang suka mendominasi perempuan!

Dan masih ada segudang alasan yang keluar dari bibir tipisnya.

Pun tujuh bulan lalu, ketika aku menerka-nerka keberatannya terhadap Biyan. Wajah lelaki itu simpatik, bahasanya pun santun. Penampilannya memang terbilang biasa, tapi jelek pun tidak.

”Jadi, apa lagi, Nirina?”

Matanya!

Di tempat duduknya, Nirina menggoyang-goyangkan kakinya, persis anak kecil. Tangan gadis itu berkeringat. Jantungnya berdegup lebih keras.

Aku memperhatikan Biyan lebih lekat, seandainya kamera, maka barangkali aku sudah menangkap wajah sederhananya dengan zoom terdekat.

”Tidak ada yang salah dengan matanya!” ujarku, setengah berbisik.

Nirina menggeleng-gelengkan kepala. Kerudung segi empatnya terusik.

Gemas, aku tak lagi bicara. Percuma, toh Nirina lebih sering tak mendengar perkataanku.

Kulihat mereka masih bercakap-cakap, tapi tak ada perkembangan. Upaya kedua orang tua Nirina untuk mengarahkan obrolan ke tingkat lanjutan pun tak menampakkan hasil.

Lima belas menit kemudian, Biyan pamit.

Selesai sudah, pikirku. Nirina memang terlalu.

”Jangan menyebutku terlalu!” protesnya cepat.

Seperti biasa Nirina selalu tahu pikiranku, seperti aku selalu bisa menebak isi kepalanya. Kami memang teramat dekat.

”Tapi kamu memang terlalu, Nirina.”

”Tapi, matanya….”

”Tidak! Bukan matanya. Ayolah, percuma bohong di depanku.”

Nirina menyenderkan badannya di pintu kamar. Kedua tangannya ditangkupkan ke wajah. Tak lama, bahunya mulai terisak-isak.

”Tolong, jangan desak aku terus.”

Entah isaknya, entah memang waktu itu sudah terlalu malam untuk berdebat. Aku mengalah.

Itu yang terjadi tujuh bulan lalu, tapi tidak kali ini.

Rahangku mengeras. Apapun yang terjadi, pokoknya aku sudah bertekad untuk mempertahankan pendapatku mati-matian. Demi kebaikan gadis itu. Nirina tidak bisa terus-terusan begini. Tidakkah dia sadar usia yang terus melaju tanpa hambatan?

”Aku tahu,” desisnya lemah.

Aku gembira mendengarnya. Sungguh. Tidak ada yang lebih menggembirakanku selain keberanian Nirina untuk jujur pada dirinya sendiri.

”Ya, bagus begitu. Mantapkan hatimu, Nirina.”

Nirina tak menjawab. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah lelaki ke sekian yang masih terus bicara. Di antara mereka, kedua orang tua Nirina sebaliknya berkali-kali justru melirik anak gadisnya.

Mudah-mudahan kali ini berhasil, barangkali begitu pemikiran mereka. Setidaknya Nirina belum meninggalkan teman satu kantornya itu, meski sudah setengah jam lebih.

”See? Tidak jelek juga kan memberi dirimu kesempatan. Setidaknya kalian sudah satu kantor, pasti lebih mudah, sebab telah saling mengenal.”

Nirina tiba-tiba menggeleng. Melunturkan keyakinan diriku barusan.

”Kami memang satu kantor, tapi beda divisi. Dia orang baru malah. Tak banyak yang kutahu,” bisiknya dengan intonasi yang telah kuhafal.

Tidak! Tuhan, jangan biarkan Nirina menarik dirinya lagi. Kumohon….

Tapi Nirina mulai terlihat tidak nyaman. Kedua kakinya bergerak-gerak lagi. Wajah gadis berkulit kuning langsat itu kembali tak tenang. Puncaknya….

Jangan! Jangan begitu Nirina. Eh, kembali, jangan pergi. Nirina…!

”Aku tidak bermaksud begitu. Bukan maksudku menjadi perempuan yang selalu mengecewakan.”

Aku menarik napas panjang, bingung harus menjawab apa.

”Kamu egois, Nirina. Suami impian tidak akan datang jika kamu terus begini.”

Jawabanku yang tegas itu serta-merta membuat Nirina terkesiap,”Benarkah?”

Aku mengangguk.

”Maafkan aku, bukan maksudku begitu.”

Aku tiba-tiba saja ingin tertawa keras.

”Jangan keras-keras. Telingaku tidak tuli.”

Aku tetap saja tertawa. ”Nirina… Nirina,” sebutku kemudian, masih dengan gelak yang tersisa,”kamu tidak harus meminta maaf padaku. Memangnya, apa peduliku?”

Nirina terlihat tak mengerti.

”Dengar,” lanjutku lagi,”Tak peduli apakah seorang Nirina menikah atau menjadi perawan tua, tidak banyak bedanya bagiku. Toh kita tetap sama-sama, kan? Tidak ada yang bisa mengubah itu.”

Mata sipit memanjang milik Nirina tampak bingung.

”Kamu egois, Nirina. Dengar, selama ini kamu hanya mempedulikan perasaanmu, kemauanmu, dan lupa memandang sekitar. Sekali-kali keluar dari dirimu, Nirina. Pandang sekelilingmu dengan mataku. Lihat, betapa kecewanya wajah Papa dan Mama, setiap kali kamu menarik diri dari proses mengenal lebih dekat calonmu. Bisa kamu lihat sekarang?”

”Kamu bohong!” Mata Nirina mendadak berair.

”Itu yang sejujurnya, kamu tahu itu.”

Gadis itu menggeleng lagi. ”Tidak, tidak. Kamu bohong. Papa dan Mama baik-baik saja, mereka dua orang tua yang luar biasa. Tidak memaksakan kehendak kepada anak-anak mereka. Tidak seperti banyak orang tua lain yang kutahu.”

Ketika Nirina meninggikan intonasinya, dan mulai dengan serampangan membela diri, aku memilih bungkam. Tidur mungkin jalan keluar yang baik. Tapi sebelum pergi, aku meninggalkan kalimat ini padanya.

”Tidakkah setiap orang tua ingin menjadi kakek dan nenek, Nirina? Kebahagiaan apa lagi yang bisa kita berikan pada mereka, setelah kelucuan sebagai kanak-kanak menghilang?”

Nirina diam.

Tapi aku tahu, sebetulnya dia menyimpan kalimatku baik-baik dalam ruang penting di hatinya.

Buktinya, seminggu kemudian gadis itu kembali membuka diri. Padahal laki-laki yang datang kali ini sama sekali tidak dikenal gadis itu. Mariska, kakak satu-satunya Nirina yang mengenalkan.

Tingginya cukup, berat badan sedang. Alis hitam dan tebal, nyaris bertaut di dahi. Bibirnya sedikit kecokelatan, namun tidak terlihat hitam oleh rokok. Sungguh memberi kesan awal yang baik buatku, kuharap begitu juga buat Nirina.

”Ssst, siapa tadi namanya?”tanyaku, sekonyong-konyong.

Nirina sedikit tersipu, namun dijawabnya pertanyaanku dengan suara serupa bisikan,”Kamu tidak menyimak rupanya?”

Aku tertawa.”Tidak, sebab kamu sendiri tidak ingat namanya, kan?”

Nirina kembali tersipu. Tapi aku senang melihat semburat merah muda di wajahnya yang kuning.

”Bagus.”

Laki-laki itu menyebutkan namanya, membuat pias merah jambu itu kembali memuai di wajah Nirina. Seperti kanak-kanak yang tertangkap basah mencuri permen.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

”Bagus ini teman Kak Riska waktu di SMA, Nirina.”

Kami berpandangan, lalu berbarengan ber’O’.

Setelah itu kata-kata mengalir, silih berganti. Selama pertemuan itu pula, aku mencatat perubahan cukup besar pada Nirina. Gadis itu terlihat lebih membuka diri, dan berusaha keras terlibat dalam percakapan secara aktif.

Dia, misalnya, mau bertanya di mana tempat tinggal pemuda bernama Bagus itu, lalu apa hobinya. Dan ketika Bagus menyebutkan membaca sebagai hobi utama, mata memanjang milik Nirina berkerlap.

Nirina bahkan berani menanyakan pekerjaan Bagus, juga keluarganya. Pemuda itu menjawab semua pertanyaan Nirina dengan simpatik. Aku suka melihat cara berbicaranya yang begitu teratur, tidak terburu-buru, santun tanpa perlu menjadi kaku.

“Ssst, kamu bertanya atau interogasi?” godaku saat Bagus berpamitan.

Awalnya Nirina tertawa saja. Tapi sewaktu jam demi jam berlalu, gadis itu berangsur tak tenang.

“Tidak perlu cemas begitu, Nirina.”

Gadis kesayanganku itu seperti tak mendengar, terus mondar-mandir di kamarnya yang berukuran 3 x 4. Lalu tak berapa lama, setelah Mariska pulang, kecemasan Nirina berubah menjadi kepanikan.

”Hey… hey… tenang saja, Nirina.”

Nirina menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu betul, aku terlalu agresif tadi. Harusnya tidak begitu. Ya Allah… lihat kan wajahnya begitu lega ketika pertemuan berakhir? Seharusnya aku lebih menahan diri, dan tidak bersikap seperti seorang polisi yang melakukan investigasi.”

Belum pernah kulihat Nirina segundah itu. Berkali-kali tangan rampingnya ditepukkan ke kening.

“Duh, bodohnya aku!”

“Tenang,”

“Tapi tadi kamu sendiri yang bilang begitu, kan?”

Aku garuk-garuk kepala, benar sih. Tapi tadi kan aku hanya menggodanya saja.

”Sekarang dia akan melihatku tak ubahnya aggressor, seperti Israel terhadap Palestina.”

”Kamu berlebihan, ah.”

”Ok, seperti striker di lapangan terhadap kipper?”

”Ini bukan pertandingan bola, Nirina. Tenanglah.”

”Sekarang dia akan berubah pikiran,”suaranya mengandung penyesalan.

Aku terenyuh mendengarnya. Suara gadis itu barusan terdengar tulus, pekat dengan kekhawatiran. Seolah berkata, dia telah menemukan suami impian.

Padahal ini baru pertemuan pertama.

Alhamdulillah.

”Tapi, bagaimana jika Bagus tidak kembali?”

”Gampang saja,” sahutku mencoba menenangkannya.

”Maksudmu?”

”Ya, setelah semua kecerewetanmu tadi, siapa yang sudi kembali?”

Nirina shocked, tapi aku tertawa.

“Hey… hey. Aku cuma bercanda, kok.”

Bibir gadis itu menyungging senyum. Hanya sekilas sebelum mendung kembali menggayuti, dan membuat paras Vic Zhounya murung.

Syukurlah kekhawatiran gadis itu tak terbukti. Beberapa hari kemudian, pemuda bermata hitam yang memiliki alis tebal itu datang lagi. Mariska kembali menemani percakapan dua anak muda itu, bahkan Papa dan Mama belakangan ikut meningkahi obrolan ketiganya.

Raut wajah Nirina cerah, aku senang merasakan hatinya yang melonjak-lonjak. Tampaknya pemuda ini memiliki kecocokan dengan Nirina, dan bisa memenangkan kunci hati gadis itu.

Pada pertemuan kelima, Bagus membawa kedua orang tuanya, dan mengajukan niatan. Mariska memang tak salah pilih makhluk untuk menikahi adiknya. Bagus tak seperti kebanyakan pemuda yang cuma mau pacaran, sebaliknya cowok itu dengan terus-terang mengemukakan keinginannya untuk memperistri Nirina.

Tibalah saatnya semua mata tertuju pada Nirina, yang sejak tadi menundukkan wajah mungilnya, yang hari itu dibalut kerudung ungu muda.

Diam-diam aku juga seperti mereka, menunggu. Berdoa, agar Nirina tak lagi ragu. Kemudian pelan-pelan kami melihat Nirina mengangkat wajahnya. Sebutir embun menggenang di kedua mata sipitnya. Dan seperti sulit dipercaya, Nirina kemudian menganggukkan kepala.

Yes! Yess! Yesss!

Aku bersorak paling kencang, meski sepertinya tak ada yang mendengar, kecuali Nirina sendiri.

Rapat kilat dilakukan, tanggal pun ditentukan. Hanya dalam waktu dua pekan sebuah pernikahan siap digelar. Aku betul-betul salut melihat kegigihan dan ketenangan pemuda bernama Bagus itu. Ketenangan yang perlahan mengalir pada diri Nirina, dan memberinya kemantapan hati.

Nirina… Nirina… akhirnya! desisku di antara peluk cium, Kakak, Papa, dan Mama. Kegembiraan serupa memancar dari wajah kedua orang tua Bagus, juga pemuda itu sendiri.

Begitulah, hari demi hari setelahnya, aku mencatat keriangan Nirina. Antusiasmenya dalam memilih undangan, mengurus sendiri ke percetakan, terkadang ditemani Bagus dan adiknya. Lalu mencari masjid tempat akad nikah dilakukan. Juga menyewa tempat resepsi besar, sesuai keinginan kedua orang tua Nirina. Aku sendiri tak heran, maklumlah mereka dua keluarga besar. Tentu banyak yang akan protes jika tak diundang.

Hingga hari H tiba.

Sejak malam sebetulnya aku menangkap sesuatu yang lain. Bukan kecemasan seperti yang sudah-sudah, meski udaranya nyaris serupa. Nirina, seperti menunggu sesuatu.

Salat malam dilakukan gadis itu, dengan sujud-sujud panjang. Lalu tangannya menengadah. Usai tahajud, gadis itu membuka jendela, dan matanya menerobos dalam kegelapan, seolah mencari-cari sesuatu. Bahkan hingga Subuh berkumandang, detak jantungnya kembali berbunyi keresahan, agak berbeda, tapi nyaris seperti yang lalu-lalu.

Mulanya aku tak mau bicara. Kubiarkan saja dia merenungi masa-masa terakhir sebagai seorang gadis. Lusa dia akan terbangun dengan seorang pendamping di sisinya, dalam dunia yang sama sekali berbeda. Bahkan sejak mereka masuk ke peraduan.

Harusnya, Nirina bahagia. Kenyataannya?

Lepas salat Subuh, ketika Mama menggedor kamar Nirina, menyuruhnya mandi, Nirina melakukannya setengah hati saja. Begitu pun ketika Mariska mengingatkannya agar segera keluar kamar, untuk dirias sebagaimana pengantin umumnya, Nirina menunjukkan sikap enggan.

Aku tak tahan lagi berdiam.

”Nirina, kenapa lagi?”

Wajah orientalnya tampak cantik dalam lipstik warna merah jambu. Tapi gadis itu masih saja tepekur di pinggiran ranjang pengantin yang sudah dihias dan menyebarkan wangi melati.

”Kamu harus ganti baju, Nirina.”

Kepalanya tertunduk,”Ya, aku tahu.”

”Lalu? Jangan katakan kamu ragu lagi.”

Nirina tak menjawab, kedua kakinya digoyang-goyangkan hingga ranjang sedikit terayun. Sikap yang kontan membuatku merasa cemas.

”Kamu tidak ragu lagi, kan? Tidak berubah pikiran, kan?”

Nirina menggelengkan kepalanya.

”Lalu apa? Ada apa?”

Nirina mengembuskan napas berat. ”Entahlah… aku rasa… aku….”

Kalimatnya terhenti, gadis itu menarik napas lagi.

”Kenapa denganmu?”

Nirina melompat dari tempat tidur. Barusan suara Mama menyuruhnya berpakaian, terdengar lagi.

Tangan Nirina menarik resleting kebaya putihnya. Lalu masih tetap dengan wajah murung, memakainya.

”Please, jangan sekarang, Nirina. Jangan ragu ketika kamu sudah sedekat ini,” pintaku, setengah memohon.

”Aku tahu,”

”Lalu?”

”Aku tidak ragu, hanya saja…,” suaranya kembali terputus teriakan Mama. Nirina menjawab panggilan orang tuanya tanpa membuka kamar. ”Sebentar, Ma….”

”See? Semua orang gugup hari ini, Nirina, apalagi kamu. Itu wajar!”

Nirina tak menjawab. Gadis itu kini telah selesai berpakaian. Dipandangnya sosok kecil mungil dalam balutan kebaya berwarna putih gading, dan kain batik di depan cermin. Selembar kain schiffon sebagai pelengkap jilbab dikenakannya tanpa ekspresi.

Ahh, aku tak suka melihat wajah cantiknya yang masih saja murung.

”Kalau bukan ragu, apa lagi?” kejarku setelah beberapa saat kami hanya berdiam.

”Aku menunggu pertanda.”

”Apa?” teriakku kaget,”Pertanda?”

”Ya!” jawabnya tegas,”Pertanda dari Allah, bahwa Bagus memang suami impian, laki-laki yang dipilihkan-Nya untukku! Apa itu salah?”

Fhew. Nirina sungguh menguras kesabaranku.

“Dan kamu belum mendapatkannya? Selama obrolan lima kali dengan calonmu itu, tidakkah kamu bisa menangkap pertanda?”

Nirina menggeleng.

Ya Allah. Aku makin kesal dibuatnya.

“Maksudku bukan itu, tapi pertanda. Sesuatu yang bisa membuatku lebih mantap, sebab tahu memang dialah pilihan dari-Nya.”

“Pertanda, ya? Pertanda?!”

“Ya… sudah sejak semalam aku memikirkannya.”

“Kenapa tidak mencari pertanda ketika tanggal belum lagi ditetapkan?”

“Tidak bisa.” Kepalanya menggeleng lagi, ”Sebab kali ini aku tak punya alasan. Tidak matanya, tidak cara berjalannya, tidak sikapnya, tidak dahinya yang selalu berkerut, tidak ada!”

Bagus nyaris sempurna di mata Nirina. Sosok suami yang diimpikannya. Aku tahu pasti itu.

”Kalau begitu, ini cuma alasan yang dicari-cari!” teriakku dengan suara tertahan.

Sementara matahari terus bergulir. Di luar kamar sudah terdengar suara riuh sanak saudara yang datang untuk mengantar Nirina ke tempat akad nikah, sekaligus resepsi. Pintu sudah berkali-kali diketuk, tapi Nirina belum keluar juga. Dan alasannya cuma satu: gadis itu belum menemukan pertanda!

Ini gila!

”Jangan menyebutku begitu. Sudah kubilang ini cuma masalah waktu. Pertanda itu pasti datang.”

”Seperti apa?”

Nirina mengangkat bahunya. ”Entahlah, tapi mungkin aku akan mendengar orang-orang menyebut kata ’bagus’ berkali-kali, atau awan tiba-tiba membentuk inisial nama kami berdua, atau….”

”Atau kamu tiba-tiba melewati mobil pengantin lain, atau melewati toko kue di mana terlihat kue pengantin tiga tingkat disana, atau sekawanan burung-burung terbang di langit membentuk wajah calon suamimu itu… atau…,” ujarku asal.

Nirina mengangguk. ”Ya, seperti itulah. Apa pun yang bisa dijadikan pertanda.”

Aku benar-benar hilang akal, Nirina kenapa tidak mendengar kata-kataku, sekali ini saja!

”Cobalah mengerti, terlalu banyak yang harus aku pertaruhkan,” ujarnya mencoba meyakinkanku, ”Bagaimana kalau Bagus tak sebaik yang kita duga? Bagaimana jika dia sudah punya istri dimana-mana, bagaimana jika dia nanti ternyata suka memukuli istri? Atau ternyata pernah terlibat mafia di luar negeri, atau merampok bank?” Suara Nirina meninggi, di sela ketukan pintu yang kembali terdengar.

”Kamu kebanyakan nonton infotainment!” sergahku cepat.

Ketukan di pintu berulang lagi. Ritmenya kian cepat. Orang-orang pasti mulai tidak sabar.

”Nirina….”

Itu suara Mama.

Nirina diam, aku tahu dia menungguku mengucapkan sesuatu.

“Kalau begitu, cari kelebihannya Nirina. Pusatkan pikiranmu pada kebaikan-kebaikannya, itulah pertanda! Itulah alasan kenapa kamu harus menikah dengan Bagus.”

Nirina diam, aku tahu dia sedang berpikir keras.

Tetapi tak ada waktu, suara ketukan di pintu kini telah berupa gedoran.

Nirina harus segera mengambil keputusan. Sebentar lagi pintu mungkin didobrak dari luar. Mereka bisa saja mengira gadis itu telah pingsan di kamarnya karena nervous.

Di tepi ranjang, Nirina masih berpikir. Mengetahui itu aku menjadi lebih semangat mengembuskan pikiran demi pikiran.

Sikapnya yang sopan, Nirina.

Matanya yang tak liar ketika menatapmu.

Perhatikan bagaimana dia selalu menunggu lawan bicaranya selesai, sebelum menanggapi.

Pikirannya yang cerdas telah menghemat banyak biaya pernikahan.

Keinginan untuk memperistrimu secepatnya.

Ingat senyumnya yang hangat. Matanya yang teduh.

Kesabarannya menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Juga keraguan yang beberapa kali melintas.

Lalu salatnya yang selalu tepat waktu.

Air mata Nirina menetes.

Aku mengangguk, ”Itu lebih dari pertanda, Nirina. Allah mengirimkanmu seorang lelaki yang baik.”

Nirina mengikuti anggukanku.

”Well, mungkin tidak seganteng Keanu Reeves, perawakannya pun tidak setegap Ade Ray, apalagi suaranya jika dibandingkan Clay Aiken yang merdu, belum lagi….”

Nirina mengapus air matanya. ”Sudah, sudah. Jangan membuatku kembali ragu,” potongnya cepat.

Aku setuju.

Di dalam mobil yang mengantarnya ke tempat akad nikah, aku mendengar Nirina bersenandung kecil.

”Nirina….”

”Apa?”

”Tidak jelek kan menuruti kata hati?”

Gadis berwajah oriental itu mengangguk. Lalu tersenyum lebih lebar. Menenangkan Papa dan Mama, yang sejak tadi tampak kebingungan menyaksikan percakapan Nirina denganku sepanjang perjalanan. Barangkali alasannya karena aku cuma sosok tanpa wujud. Ah, seharusnya sejak tadi aku memperkenalkan diri pada mereka.

”Ehem… namaku nurani, atau….”

Aku masih berusaha memikirkan beberapa nama lain, ketika sebuah suara yang akrab denganku sejak kelahirannya, menyergah. ”Ssst… jangan berisik!”

Mengingatkanku akan prosesi yang sebentar lagi dimulai.

Diambil dari buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama “Suami Impian” yang diterbitkan oleh PT. Lingkar Pena Kreativa, Cetakan kedua, April 2006. Dapatkan bukunya dan simak cerita-cerita keren dari Asma Nadia, Birulaut, Ifa Avianty, Sakti Wibowo, dll.

Suami Impian

Penulis : Asma Nadia

“Apa lagi, Nirina?”

Gadis dengan garis wajah oriental itu tak menjawab. Hanya menggoyang-goyangkan kakinya, resah.

“Tak ada yang salah dengan perawakannya, kan? Tidak seperti lelaki yang terakhir datang.”

Nirina tersenyum. Pasti pikirannya melayang ke kejadian tujuh bulan lalu, ketika seorang lelaki datang melamar. Biyan, namanya. Kehadiran sosok tegap itu segera saja membawa kami pada pertengkaran sengit,

”Aku tidak bisa.”

”Kenapa?” kejarku cepat. Ini bukan pertama kali Nirina beralasan. Selalu ada saja kekurangan lelaki yang melamarnya.

Kekanak-kanakan!

Terlalu serius. Lihat keningnya yang terus-terusan terlipat!

Wajahnya aneh, tidak terlihat tulus.

Entahlah, dari caranya berjalan, sepertinya dia tipe lelaki yang suka mendominasi perempuan!

Dan masih ada segudang alasan yang keluar dari bibir tipisnya.

Pun tujuh bulan lalu, ketika aku menerka-nerka keberatannya terhadap Biyan. Wajah lelaki itu simpatik, bahasanya pun santun. Penampilannya memang terbilang biasa, tapi jelek pun tidak.

”Jadi, apa lagi, Nirina?”

Matanya!

Di tempat duduknya, Nirina menggoyang-goyangkan kakinya, persis anak kecil. Tangan gadis itu berkeringat. Jantungnya berdegup lebih keras.

Aku memperhatikan Biyan lebih lekat, seandainya kamera, maka barangkali aku sudah menangkap wajah sederhananya dengan zoom terdekat.

”Tidak ada yang salah dengan matanya!” ujarku, setengah berbisik.

Nirina menggeleng-gelengkan kepala. Kerudung segi empatnya terusik.

Gemas, aku tak lagi bicara. Percuma, toh Nirina lebih sering tak mendengar perkataanku.

Kulihat mereka masih bercakap-cakap, tapi tak ada perkembangan. Upaya kedua orang tua Nirina untuk mengarahkan obrolan ke tingkat lanjutan pun tak menampakkan hasil.

Lima belas menit kemudian, Biyan pamit.

Selesai sudah, pikirku. Nirina memang terlalu.

”Jangan menyebutku terlalu!” protesnya cepat.

Seperti biasa Nirina selalu tahu pikiranku, seperti aku selalu bisa menebak isi kepalanya. Kami memang teramat dekat.

”Tapi kamu memang terlalu, Nirina.”

”Tapi, matanya….”

”Tidak! Bukan matanya. Ayolah, percuma bohong di depanku.”

Nirina menyenderkan badannya di pintu kamar. Kedua tangannya ditangkupkan ke wajah. Tak lama, bahunya mulai terisak-isak.

”Tolong, jangan desak aku terus.”

Entah isaknya, entah memang waktu itu sudah terlalu malam untuk berdebat. Aku mengalah.

Itu yang terjadi tujuh bulan lalu, tapi tidak kali ini.

Rahangku mengeras. Apapun yang terjadi, pokoknya aku sudah bertekad untuk mempertahankan pendapatku mati-matian. Demi kebaikan gadis itu. Nirina tidak bisa terus-terusan begini. Tidakkah dia sadar usia yang terus melaju tanpa hambatan?

”Aku tahu,” desisnya lemah.

Aku gembira mendengarnya. Sungguh. Tidak ada yang lebih menggembirakanku selain keberanian Nirina untuk jujur pada dirinya sendiri.

”Ya, bagus begitu. Mantapkan hatimu, Nirina.”

Nirina tak menjawab. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah lelaki ke sekian yang masih terus bicara. Di antara mereka, kedua orang tua Nirina sebaliknya berkali-kali justru melirik anak gadisnya.

Mudah-mudahan kali ini berhasil, barangkali begitu pemikiran mereka. Setidaknya Nirina belum meninggalkan teman satu kantornya itu, meski sudah setengah jam lebih.

”See? Tidak jelek juga kan memberi dirimu kesempatan. Setidaknya kalian sudah satu kantor, pasti lebih mudah, sebab telah saling mengenal.”

Nirina tiba-tiba menggeleng. Melunturkan keyakinan diriku barusan.

”Kami memang satu kantor, tapi beda divisi. Dia orang baru malah. Tak banyak yang kutahu,” bisiknya dengan intonasi yang telah kuhafal.

Tidak! Tuhan, jangan biarkan Nirina menarik dirinya lagi. Kumohon….

Tapi Nirina mulai terlihat tidak nyaman. Kedua kakinya bergerak-gerak lagi. Wajah gadis berkulit kuning langsat itu kembali tak tenang. Puncaknya….

Jangan! Jangan begitu Nirina. Eh, kembali, jangan pergi. Nirina…!

”Aku tidak bermaksud begitu. Bukan maksudku menjadi perempuan yang selalu mengecewakan.”

Aku menarik napas panjang, bingung harus menjawab apa.

”Kamu egois, Nirina. Suami impian tidak akan datang jika kamu terus begini.”

Jawabanku yang tegas itu serta-merta membuat Nirina terkesiap,”Benarkah?”

Aku mengangguk.

”Maafkan aku, bukan maksudku begitu.”

Aku tiba-tiba saja ingin tertawa keras.

”Jangan keras-keras. Telingaku tidak tuli.”

Aku tetap saja tertawa. ”Nirina… Nirina,” sebutku kemudian, masih dengan gelak yang tersisa,”kamu tidak harus meminta maaf padaku. Memangnya, apa peduliku?”

Nirina terlihat tak mengerti.

”Dengar,” lanjutku lagi,”Tak peduli apakah seorang Nirina menikah atau menjadi perawan tua, tidak banyak bedanya bagiku. Toh kita tetap sama-sama, kan? Tidak ada yang bisa mengubah itu.”

Mata sipit memanjang milik Nirina tampak bingung.

”Kamu egois, Nirina. Dengar, selama ini kamu hanya mempedulikan perasaanmu, kemauanmu, dan lupa memandang sekitar. Sekali-kali keluar dari dirimu, Nirina. Pandang sekelilingmu dengan mataku. Lihat, betapa kecewanya wajah Papa dan Mama, setiap kali kamu menarik diri dari proses mengenal lebih dekat calonmu. Bisa kamu lihat sekarang?”

”Kamu bohong!” Mata Nirina mendadak berair.

”Itu yang sejujurnya, kamu tahu itu.”

Gadis itu menggeleng lagi. ”Tidak, tidak. Kamu bohong. Papa dan Mama baik-baik saja, mereka dua orang tua yang luar biasa. Tidak memaksakan kehendak kepada anak-anak mereka. Tidak seperti banyak orang tua lain yang kutahu.”

Ketika Nirina meninggikan intonasinya, dan mulai dengan serampangan membela diri, aku memilih bungkam. Tidur mungkin jalan keluar yang baik. Tapi sebelum pergi, aku meninggalkan kalimat ini padanya.

”Tidakkah setiap orang tua ingin menjadi kakek dan nenek, Nirina? Kebahagiaan apa lagi yang bisa kita berikan pada mereka, setelah kelucuan sebagai kanak-kanak menghilang?”

Nirina diam.

Tapi aku tahu, sebetulnya dia menyimpan kalimatku baik-baik dalam ruang penting di hatinya.

Buktinya, seminggu kemudian gadis itu kembali membuka diri. Padahal laki-laki yang datang kali ini sama sekali tidak dikenal gadis itu. Mariska, kakak satu-satunya Nirina yang mengenalkan.

Tingginya cukup, berat badan sedang. Alis hitam dan tebal, nyaris bertaut di dahi. Bibirnya sedikit kecokelatan, namun tidak terlihat hitam oleh rokok. Sungguh memberi kesan awal yang baik buatku, kuharap begitu juga buat Nirina.

”Ssst, siapa tadi namanya?”tanyaku, sekonyong-konyong.

Nirina sedikit tersipu, namun dijawabnya pertanyaanku dengan suara serupa bisikan,”Kamu tidak menyimak rupanya?”

Aku tertawa.”Tidak, sebab kamu sendiri tidak ingat namanya, kan?”

Nirina kembali tersipu. Tapi aku senang melihat semburat merah muda di wajahnya yang kuning.

”Bagus.”

Laki-laki itu menyebutkan namanya, membuat pias merah jambu itu kembali memuai di wajah Nirina. Seperti kanak-kanak yang tertangkap basah mencuri permen.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

”Bagus ini teman Kak Riska waktu di SMA, Nirina.”

Kami berpandangan, lalu berbarengan ber’O’.

Setelah itu kata-kata mengalir, silih berganti. Selama pertemuan itu pula, aku mencatat perubahan cukup besar pada Nirina. Gadis itu terlihat lebih membuka diri, dan berusaha keras terlibat dalam percakapan secara aktif.

Dia, misalnya, mau bertanya di mana tempat tinggal pemuda bernama Bagus itu, lalu apa hobinya. Dan ketika Bagus menyebutkan membaca sebagai hobi utama, mata memanjang milik Nirina berkerlap.

Nirina bahkan berani menanyakan pekerjaan Bagus, juga keluarganya. Pemuda itu menjawab semua pertanyaan Nirina dengan simpatik. Aku suka melihat cara berbicaranya yang begitu teratur, tidak terburu-buru, santun tanpa perlu menjadi kaku.

“Ssst, kamu bertanya atau interogasi?” godaku saat Bagus berpamitan.

Awalnya Nirina tertawa saja. Tapi sewaktu jam demi jam berlalu, gadis itu berangsur tak tenang.

“Tidak perlu cemas begitu, Nirina.”

Gadis kesayanganku itu seperti tak mendengar, terus mondar-mandir di kamarnya yang berukuran 3 x 4. Lalu tak berapa lama, setelah Mariska pulang, kecemasan Nirina berubah menjadi kepanikan.

”Hey… hey… tenang saja, Nirina.”

Nirina menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu betul, aku terlalu agresif tadi. Harusnya tidak begitu. Ya Allah… lihat kan wajahnya begitu lega ketika pertemuan berakhir? Seharusnya aku lebih menahan diri, dan tidak bersikap seperti seorang polisi yang melakukan investigasi.”

Belum pernah kulihat Nirina segundah itu. Berkali-kali tangan rampingnya ditepukkan ke kening.

“Duh, bodohnya aku!”

“Tenang,”

“Tapi tadi kamu sendiri yang bilang begitu, kan?”

Aku garuk-garuk kepala, benar sih. Tapi tadi kan aku hanya menggodanya saja.

”Sekarang dia akan melihatku tak ubahnya aggressor, seperti Israel terhadap Palestina.”

”Kamu berlebihan, ah.”

”Ok, seperti striker di lapangan terhadap kipper?”

”Ini bukan pertandingan bola, Nirina. Tenanglah.”

”Sekarang dia akan berubah pikiran,”suaranya mengandung penyesalan.

Aku terenyuh mendengarnya. Suara gadis itu barusan terdengar tulus, pekat dengan kekhawatiran. Seolah berkata, dia telah menemukan suami impian.

Padahal ini baru pertemuan pertama.

Alhamdulillah.

”Tapi, bagaimana jika Bagus tidak kembali?”

”Gampang saja,” sahutku mencoba menenangkannya.

”Maksudmu?”

”Ya, setelah semua kecerewetanmu tadi, siapa yang sudi kembali?”

Nirina shocked, tapi aku tertawa.

“Hey… hey. Aku cuma bercanda, kok.”

Bibir gadis itu menyungging senyum. Hanya sekilas sebelum mendung kembali menggayuti, dan membuat paras Vic Zhounya murung.

Syukurlah kekhawatiran gadis itu tak terbukti. Beberapa hari kemudian, pemuda bermata hitam yang memiliki alis tebal itu datang lagi. Mariska kembali menemani percakapan dua anak muda itu, bahkan Papa dan Mama belakangan ikut meningkahi obrolan ketiganya.

Raut wajah Nirina cerah, aku senang merasakan hatinya yang melonjak-lonjak. Tampaknya pemuda ini memiliki kecocokan dengan Nirina, dan bisa memenangkan kunci hati gadis itu.

Pada pertemuan kelima, Bagus membawa kedua orang tuanya, dan mengajukan niatan. Mariska memang tak salah pilih makhluk untuk menikahi adiknya. Bagus tak seperti kebanyakan pemuda yang cuma mau pacaran, sebaliknya cowok itu dengan terus-terang mengemukakan keinginannya untuk memperistri Nirina.

Tibalah saatnya semua mata tertuju pada Nirina, yang sejak tadi menundukkan wajah mungilnya, yang hari itu dibalut kerudung ungu muda.

Diam-diam aku juga seperti mereka, menunggu. Berdoa, agar Nirina tak lagi ragu. Kemudian pelan-pelan kami melihat Nirina mengangkat wajahnya. Sebutir embun menggenang di kedua mata sipitnya. Dan seperti sulit dipercaya, Nirina kemudian menganggukkan kepala.

Yes! Yess! Yesss!

Aku bersorak paling kencang, meski sepertinya tak ada yang mendengar, kecuali Nirina sendiri.

Rapat kilat dilakukan, tanggal pun ditentukan. Hanya dalam waktu dua pekan sebuah pernikahan siap digelar. Aku betul-betul salut melihat kegigihan dan ketenangan pemuda bernama Bagus itu. Ketenangan yang perlahan mengalir pada diri Nirina, dan memberinya kemantapan hati.

Nirina… Nirina… akhirnya! desisku di antara peluk cium, Kakak, Papa, dan Mama. Kegembiraan serupa memancar dari wajah kedua orang tua Bagus, juga pemuda itu sendiri.

Begitulah, hari demi hari setelahnya, aku mencatat keriangan Nirina. Antusiasmenya dalam memilih undangan, mengurus sendiri ke percetakan, terkadang ditemani Bagus dan adiknya. Lalu mencari masjid tempat akad nikah dilakukan. Juga menyewa tempat resepsi besar, sesuai keinginan kedua orang tua Nirina. Aku sendiri tak heran, maklumlah mereka dua keluarga besar. Tentu banyak yang akan protes jika tak diundang.

Hingga hari H tiba.

Sejak malam sebetulnya aku menangkap sesuatu yang lain. Bukan kecemasan seperti yang sudah-sudah, meski udaranya nyaris serupa. Nirina, seperti menunggu sesuatu.

Salat malam dilakukan gadis itu, dengan sujud-sujud panjang. Lalu tangannya menengadah. Usai tahajud, gadis itu membuka jendela, dan matanya menerobos dalam kegelapan, seolah mencari-cari sesuatu. Bahkan hingga Subuh berkumandang, detak jantungnya kembali berbunyi keresahan, agak berbeda, tapi nyaris seperti yang lalu-lalu.

Mulanya aku tak mau bicara. Kubiarkan saja dia merenungi masa-masa terakhir sebagai seorang gadis. Lusa dia akan terbangun dengan seorang pendamping di sisinya, dalam dunia yang sama sekali berbeda. Bahkan sejak mereka masuk ke peraduan.

Harusnya, Nirina bahagia. Kenyataannya?

Lepas salat Subuh, ketika Mama menggedor kamar Nirina, menyuruhnya mandi, Nirina melakukannya setengah hati saja. Begitu pun ketika Mariska mengingatkannya agar segera keluar kamar, untuk dirias sebagaimana pengantin umumnya, Nirina menunjukkan sikap enggan.

Aku tak tahan lagi berdiam.

”Nirina, kenapa lagi?”

Wajah orientalnya tampak cantik dalam lipstik warna merah jambu. Tapi gadis itu masih saja tepekur di pinggiran ranjang pengantin yang sudah dihias dan menyebarkan wangi melati.

”Kamu harus ganti baju, Nirina.”

Kepalanya tertunduk,”Ya, aku tahu.”

”Lalu? Jangan katakan kamu ragu lagi.”

Nirina tak menjawab, kedua kakinya digoyang-goyangkan hingga ranjang sedikit terayun. Sikap yang kontan membuatku merasa cemas.

”Kamu tidak ragu lagi, kan? Tidak berubah pikiran, kan?”

Nirina menggelengkan kepalanya.

”Lalu apa? Ada apa?”

Nirina mengembuskan napas berat. ”Entahlah… aku rasa… aku….”

Kalimatnya terhenti, gadis itu menarik napas lagi.

”Kenapa denganmu?”

Nirina melompat dari tempat tidur. Barusan suara Mama menyuruhnya berpakaian, terdengar lagi.

Tangan Nirina menarik resleting kebaya putihnya. Lalu masih tetap dengan wajah murung, memakainya.

”Please, jangan sekarang, Nirina. Jangan ragu ketika kamu sudah sedekat ini,” pintaku, setengah memohon.

”Aku tahu,”

”Lalu?”

”Aku tidak ragu, hanya saja…,” suaranya kembali terputus teriakan Mama. Nirina menjawab panggilan orang tuanya tanpa membuka kamar. ”Sebentar, Ma….”

”See? Semua orang gugup hari ini, Nirina, apalagi kamu. Itu wajar!”

Nirina tak menjawab. Gadis itu kini telah selesai berpakaian. Dipandangnya sosok kecil mungil dalam balutan kebaya berwarna putih gading, dan kain batik di depan cermin. Selembar kain schiffon sebagai pelengkap jilbab dikenakannya tanpa ekspresi.

Ahh, aku tak suka melihat wajah cantiknya yang masih saja murung.

”Kalau bukan ragu, apa lagi?” kejarku setelah beberapa saat kami hanya berdiam.

”Aku menunggu pertanda.”

”Apa?” teriakku kaget,”Pertanda?”

”Ya!” jawabnya tegas,”Pertanda dari Allah, bahwa Bagus memang suami impian, laki-laki yang dipilihkan-Nya untukku! Apa itu salah?”

Fhew. Nirina sungguh menguras kesabaranku.

“Dan kamu belum mendapatkannya? Selama obrolan lima kali dengan calonmu itu, tidakkah kamu bisa menangkap pertanda?”

Nirina menggeleng.

Ya Allah. Aku makin kesal dibuatnya.

“Maksudku bukan itu, tapi pertanda. Sesuatu yang bisa membuatku lebih mantap, sebab tahu memang dialah pilihan dari-Nya.”

“Pertanda, ya? Pertanda?!”

“Ya… sudah sejak semalam aku memikirkannya.”

“Kenapa tidak mencari pertanda ketika tanggal belum lagi ditetapkan?”

“Tidak bisa.” Kepalanya menggeleng lagi, ”Sebab kali ini aku tak punya alasan. Tidak matanya, tidak cara berjalannya, tidak sikapnya, tidak dahinya yang selalu berkerut, tidak ada!”

Bagus nyaris sempurna di mata Nirina. Sosok suami yang diimpikannya. Aku tahu pasti itu.

”Kalau begitu, ini cuma alasan yang dicari-cari!” teriakku dengan suara tertahan.

Sementara matahari terus bergulir. Di luar kamar sudah terdengar suara riuh sanak saudara yang datang untuk mengantar Nirina ke tempat akad nikah, sekaligus resepsi. Pintu sudah berkali-kali diketuk, tapi Nirina belum keluar juga. Dan alasannya cuma satu: gadis itu belum menemukan pertanda!

Ini gila!

”Jangan menyebutku begitu. Sudah kubilang ini cuma masalah waktu. Pertanda itu pasti datang.”

”Seperti apa?”

Nirina mengangkat bahunya. ”Entahlah, tapi mungkin aku akan mendengar orang-orang menyebut kata ’bagus’ berkali-kali, atau awan tiba-tiba membentuk inisial nama kami berdua, atau….”

”Atau kamu tiba-tiba melewati mobil pengantin lain, atau melewati toko kue di mana terlihat kue pengantin tiga tingkat disana, atau sekawanan burung-burung terbang di langit membentuk wajah calon suamimu itu… atau…,” ujarku asal.

Nirina mengangguk. ”Ya, seperti itulah. Apa pun yang bisa dijadikan pertanda.”

Aku benar-benar hilang akal, Nirina kenapa tidak mendengar kata-kataku, sekali ini saja!

”Cobalah mengerti, terlalu banyak yang harus aku pertaruhkan,” ujarnya mencoba meyakinkanku, ”Bagaimana kalau Bagus tak sebaik yang kita duga? Bagaimana jika dia sudah punya istri dimana-mana, bagaimana jika dia nanti ternyata suka memukuli istri? Atau ternyata pernah terlibat mafia di luar negeri, atau merampok bank?” Suara Nirina meninggi, di sela ketukan pintu yang kembali terdengar.

”Kamu kebanyakan nonton infotainment!” sergahku cepat.

Ketukan di pintu berulang lagi. Ritmenya kian cepat. Orang-orang pasti mulai tidak sabar.

”Nirina….”

Itu suara Mama.

Nirina diam, aku tahu dia menungguku mengucapkan sesuatu.

“Kalau begitu, cari kelebihannya Nirina. Pusatkan pikiranmu pada kebaikan-kebaikannya, itulah pertanda! Itulah alasan kenapa kamu harus menikah dengan Bagus.”

Nirina diam, aku tahu dia sedang berpikir keras.

Tetapi tak ada waktu, suara ketukan di pintu kini telah berupa gedoran.

Nirina harus segera mengambil keputusan. Sebentar lagi pintu mungkin didobrak dari luar. Mereka bisa saja mengira gadis itu telah pingsan di kamarnya karena nervous.

Di tepi ranjang, Nirina masih berpikir. Mengetahui itu aku menjadi lebih semangat mengembuskan pikiran demi pikiran.

Sikapnya yang sopan, Nirina.

Matanya yang tak liar ketika menatapmu.

Perhatikan bagaimana dia selalu menunggu lawan bicaranya selesai, sebelum menanggapi.

Pikirannya yang cerdas telah menghemat banyak biaya pernikahan.

Keinginan untuk memperistrimu secepatnya.

Ingat senyumnya yang hangat. Matanya yang teduh.

Kesabarannya menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Juga keraguan yang beberapa kali melintas.

Lalu salatnya yang selalu tepat waktu.

Air mata Nirina menetes.

Aku mengangguk, ”Itu lebih dari pertanda, Nirina. Allah mengirimkanmu seorang lelaki yang baik.”

Nirina mengikuti anggukanku.

”Well, mungkin tidak seganteng Keanu Reeves, perawakannya pun tidak setegap Ade Ray, apalagi suaranya jika dibandingkan Clay Aiken yang merdu, belum lagi….”

Nirina mengapus air matanya. ”Sudah, sudah. Jangan membuatku kembali ragu,” potongnya cepat.

Aku setuju.

Di dalam mobil yang mengantarnya ke tempat akad nikah, aku mendengar Nirina bersenandung kecil.

”Nirina….”

”Apa?”

”Tidak jelek kan menuruti kata hati?”

Gadis berwajah oriental itu mengangguk. Lalu tersenyum lebih lebar. Menenangkan Papa dan Mama, yang sejak tadi tampak kebingungan menyaksikan percakapan Nirina denganku sepanjang perjalanan. Barangkali alasannya karena aku cuma sosok tanpa wujud. Ah, seharusnya sejak tadi aku memperkenalkan diri pada mereka.

”Ehem… namaku nurani, atau….”

Aku masih berusaha memikirkan beberapa nama lain, ketika sebuah suara yang akrab denganku sejak kelahirannya, menyergah. ”Ssst… jangan berisik!”

Mengingatkanku akan prosesi yang sebentar lagi dimulai.

Diambil dari buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama “Suami Impian” yang diterbitkan oleh PT. Lingkar Pena Kreativa, Cetakan kedua, April 2006. Dapatkan bukunya dan simak cerita-cerita keren dari Asma Nadia, Birulaut, Ifa Avianty, Sakti Wibowo, dll.

Slideshow

Terima Kasih atas Kunjungan anda Lain Kali datng lagi ke sini dilihat